Bersepeda di Negeri Laskar Pelangi

Belitung atau Belitong. Kesempatan mengunjungi pulau yang identik dengan Laskar Pelangi itu datang juga. Setelah melihat jadwal agenda kegiatan disana, saya putuskan untuk menikmati keindahan pulau Belitung dengan bersepeda. Meski dengan waktu terbatas, minimal gowes dari bandara ke arah hotel pun tak mengapa. Sedikit survey via google map cukup mewakili bayangan asyiknya mengayuh pedal menyusuri pantai pulau Belitung.

Persiapan dan loading sepeda

Seperti biasa, saya melakukan cek ricek kondisi sepeda serta perlengkapan lain. Membawa pakaian ganti secukupnya saja. Tidak lupa perlengkapan bersepeda seperti pompa portabel, lampu depan-belakang, serta tool kit kecil untuk berjaga-jaga.

Titik awal gowes dimulai dari rumah menuju bis tujuan bandara Soekarno Hatta (Soetta). Tidak seperti biasanya, saya memilih naik bisa JA Connexion bukan DAMRI. Tujuannya untuk menghemat waktu gowes dari rumah, karena lokasi pool DAMRI di Botani Square Bogor lebih jauh. Sampai di pangkalan bis, sepeda saya lipat, lalu disimpan di sudut bagasi bis. Aman.

Sampai di bandara, sebelum masuk ke mesin X-Ray, ban sepeda saya kempeskan terlebih dahulu lalu saya naikkan ke troley. Pemeriksaan di mesin X-Ray lancar tanpa kendala. Petugas sempat meminta agar saya memastikan ban sepeda dalam kondisi kempes.

Berhubung saya tidak punya tas untuk sepeda, saya memilih untuk membungkusnya dengan plastik wrap. Cukup dengan merogoh kocek 50 ribu, sepeda sudah cukup aman dari goresan. Jangan lupa minta ekstra kertas kardus untuk melindungi bagian yang cukup sensitif (baca: Tips Membawa Sepeda Lipat di Pesawat).

Unloading Sepeda di HAS Hanadjoeddin Airport

Tidak menunggu lama hingga bagasi keluar, mungkin karena frekwensi penerbangan ke Tanjung Pandan tidak begitu ramai. Samapi di lokasi luar, saya mencari lokasi yang cukup teduh karena akan butuh tenaga ekstra untuk memompa ban sepeda. Apalagi pompa kecil/portabel yang dipakai. Untuk dua buah ban ukuran 20 inch, saya membutuhkan waktu 15-20 menit hingga ban terisi cukup.

Setelah memastikan semua perlengkapan lengkap sesuai persiapan sebelum berangkat, saatnya gowes! Untuk memudahkan navigasi, ponsel saya letakan di phone holder merk Topeak khusus untuk ponsel seukuran milik saya (4-5″). Navigasi via google maps saya arahkan ke hotel tempat saya menginap. Yang kebetulan melewati kawasan Pantai Tanjung Pendam.

Sunset di Pantai Tanjung Pendam

Jadwal pesawat yang saya pilih, sangat kebetulan mendarat di waktu-waktu matahari tenggelam (sunset). Wah, terbayang indahnya menikmati sunset di Pantai Tanjung Pendam sambil bersepeda. Pantai Tanjung Pendam merupakan salah satu dari sekian banyak pantai yang terkenal indah di Pulau Belitung. Yang paling terkenal adalah Pantai Tanjung Tinggi yang juga menjadi spot pengambilan film Laskar Pelangi.

Semua pantai di Belitung berpasir putih. Termasuk Tanjung Pendam. Saya tiba di kawasan pantai ini sekitar jam 5.20 sore. Cukup untuk bisa menjumpai sunset. Suasana pantai cukup lengang. Hanya terlihat beberapa orang dan pasangan yang saling ber-foto. Termasuk pasangan dari Jakarta yang saya temui, dan saya mintai tolong untuk bisa mem-foto saya lengkap dengan sepeda saya. Kondisi pantai menurut saya cukup terawat. Sampah pun tidak terlalu banyak berserakan, meski ada juga beberapa.

Gagal sunset @Pantai Tanjung Pendam

Harapan bisa menikmati sunset di pantai pulau Belitung ternyata tinggal harapan. Matahari senja tertutupi awan sore, meski tidak utuh. Tapi tetap saja, keindahan sunset tidak bisa tersaji apik di sore itu. Pada akhirnya, saya harus cukup puas dengan berfoto-foto saja, dan mengabadikan si Merah (sepeda lipat, red) dari berbagai sudut.

Menikmati Pagi di Tanjung Pandan

Kegiatan dinas saya di Belitung dimulai jam 9 pagi. Cukuplah untuk bisa menjelajah kota Tanjung di kesibukan pagi. Tanjung Pandan merupakan suatu kecamatan di Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka-Belitung. Di pusat kota Tanjung Pandan, terdapat monumen atau Tugu Batu Satam. Sebuah tugu yang berentuk batu hitam ukuran besar berwarna hitam mengkilat. Katanya, batu satam merupakan batu meteor yang menubruk bumi sekitar 780.000 tahun lalu.

Di sekitaran Tugu Batu Satam, saya bertemu rombongan sekitar 10 orang yang juga bersepeda. Sepetinya sepeda sewa-an dari hotel. Saya pun menawarkan untuk membantu mem-foto mereka bersama, dengan latar beakang Tugu Batu Satam.

Suasana pagi di sekitar Tugu Batu Satam

Suasana pagi di Tanjung Pandan seperti layaknya kota-kota kecil yang lain. Kesibukan di jalanan sudah mulai tampak, ada yang bekerja, mengantar anak sekolah, dan lainnya. Kerennya, dari tiga lampu merah yang saya lewati, ketika lampu sedang merah, tidak ada satu kendaraan-pun yang berhenti melewati garis batas hingga masuk ke zebra cross. Ini yang sangat jarang saya jumpai di kota tempat saya tinggal, Bogor.

Kayuhan pedal tidak begitu terasa karena suasana pagi masih cukup sejuk, matahari pun belum terlalu menyengat. Apalagi elevasi dan kontur jalanannya relatif datar-datar saja. Jadi, tidak butuh nafas ekstra untuk mengayuh sepeda.

Danau Kaolin

Perjalan ke arah bandara saya rencanakan akan melewati Danau Kaolin, yang juga cukup terkenal di pulau Belitung. Sekilas, penampakannya mirip dengan wisata Kawah Putih di Ciwidey Bandung. Tampak sbuah danau yang cukup luas, dengan air yang berwarna biru terang. Perbedaannya adalah asal kedua danau itu terbentuk.

Danau Kaolin, Belitung

Kawah Putih terbentuk akibat aktivitas geologi, dimana masih terdapat material belerang dengan bau yang cukup menyengat. Sedangkan Danau Kaolin terbentuk dari akibat aktivitas penggalian yang dilakukan cukup lama dalam rangka pencarian material Kaolin. Cekungan-cekungan tanah yang cukup dalam meninggalkan jejak danau-danau, yang kemudian menjelma menjadi pemandangan yang sangat indah. Keunggulannya, di Danau Kaolin pengunjung dapat leluasa menikmati keindahan danau tanpa perlu khawatir akan bau belerang yang menyengat.

Jika ada kesempatan lagi ke Belitung, pasti saya akan bawa sepeda lagi. Kurang puas Sob…

Leave a Comment