Berburu ‘Super Blue Blood Moon’ di Bumi Sriwijaya

Setelah sebelumnya ‘gatot’ alias gagal total menyaksikan sunset di pantai Tanjung Pendam, Belitung, kali ini saya kembali ‘berburu’ fenomena alam lain yang lebih dahsyat: Super Blue Blood Moon. Fenomena ini bukan sembarang gerhana bulan biasa, karena merupakan gabungan dari tiga fenomena: supermoon, blue moon, dan gerhana bulan. Fenomena ini terjadi tanggal 31 Januari 2018 kemarin, yang merupakan kejadian alam yang langka sangat, disebutkan bahwa fenomena ini hanya terjadi 100 tahun sekali. Bisa dibilang, kenungkinannya cuma sekali seumur hidup, bukan?

Secara kebetulan di sekitaran tanggal tersebut saya juga mendapatkan tugas ke Palembang. Dari berita di sana-sini, ternyata Palembang diperkirakan akan jadi kota yang bisa menjadi lokasi untuk menyaksikan fenomena itu dengan jelas. Wah, beruntung banget nih! Terbayang bisa melihat fenomena langka ini di sekitaran kawasan Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak.

Keberangkatan ke Palembang tidak seperti biasanya dari Jakarta. Kali ini saya berangkat dari Bandung, karena sebelumnya saya mengikuti training di sana. Ini juga jadi pengalaman pertama saya terbang dari bandara Husein Sastranegara. Dan, tentu saja di Merah Nova setia menemani saya selama di Bandung. Kali ini, dia pun akan menemani saya berburu Super Blue Blood Moon di Bumi Sriwijaya. Citilink saya pilih untuk penerbangan dari Bandung ke Palembang, lumayan poinnya bisa digabung dengan garudamiles saya.. hehehe. Oya, kalo pengen tau Tips Membawa Sepeda Lipat di Pesawat, baca aja postingan ini yak!

Loading dan unloading sepeda… Skip… 😉

Si Merah sudah siap gowes dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sekira pukul 18.45. Night riding nih ceritanya! Tujuan pertama dan utama adalah area Jembatan Ampera. Dari googlemaps, tertera jarak tempuh 18 km. Untuk ukuran dengkul dan nafas yang pas-pasan dan sepeda roda 20 inch, saya perkirakan waktu yang saya butuhkan sekitar 1,5 jam. Plus ditambah dua gembolan tas yang menempel di rak belakang.

Jalur yang saya lewati ternyata sebagian besar merupakan jalur kereta LRT (light rail transit) dari arah bandara menuju pusat kota yang masih dalam tahap pembangunan. Katanya sih lagi dikebut untuk persiapan pelaksanaan Asian Games 2018.

Sisa-sisa proyek pembangunan Jalur LRT sering saya temukan di sepanjang jalan. Lubang lumayan besar dan onggokan tanah cukup membuat saya mesti lebih esktra hati-hati gowes. Apalagi, dengan roda 20 inch, risiko terpeleset lebih tinggi. Bersepeda di malam hari, sangat wajib dilengkapi dengan lampu depan yang cukup terang, dan jangan lupa bagian belakang juga agar sepeda bisa terlihat jelas oleh kendaraan di belakang. Apalagi kondisi jalanan dari bandara malam itu lumayan padat.

Pukul 20.15 saya sampai di area Jembatan Ampera. Ternyata kebanyakan warga Palembang yang berniat untuk menyaksikan Super Blue Blood Moon terpusat di area Benteng Kuto Besak. Saya pun membelokkan sepeda ke area itu. Sudah cukup padat dipenuhi warga dari berbagai usia. Saya pun mencari spot yang pas agar bisa maksimal melihat fenomena gerhana bulan total.

Tapi ternyata oh ternyata… Langit Palembang tidak cukup bersahabat, kawan! Bulan terlihat sedikit tersembunyi oleh awan malam. Tidak sesuai ekspektasi saya yang ingin melihat bulatan besar bulan terang saat mencapai tahap supermoon.

Tapi saya sedikit terhibur karena di sebelah saya tampak 3 pemuda pehobi fotografi sedang membidikan gear andalannya ke arah bulan. Dan, yaah.. Bulan memerah tampak lumayan jelas di LCD screen kamera mereka. Sambil ngobrol ringan, saya pun diizinkan mengambil foto dari layar kamera mereka. Lumayan lah… Hahaha..

Meski malam itu bisa dibilang ‘gatot’ lagi, tapi gemerlap lampu Jembatan Ampera di kejauhan tetap memberikan kesan tersendiri akan kehangatan kota ini. Kotanya Wong Kito Galo!

Okey.. saatnya berburu Pindang Patin.. ^_^

Leave a Comment