Whatsapp yang Tidak Lagi Sederhana

Kabar mundurnya Jan Koum co-founder aplikasi pesan instan terpopuler saat ini, Whatsapp, cukup mengejutkan. Meski, banyak juga yang memprediksinya. Paling tidak, prediksi ini muncul sejak Whatsapp dibeli Facebook dengan nilai fantastis, USD 19 Miliar ata sekitar Rp 209 triliun (kurs USD 1 = Rp 11.000). Meski sempat dijanjikan bahwa Jan Koum cs tetap memegang kendali, namun tidak dipungkiri banyak keputusan mereka yang dipengaruhi oleh pemegang saham mayoritas, Facebook dibawah kendali Mark Zuckerberg.

Saya pertama kali mengenal Whatsapp pada medio 2009, ketika aplikasi ini dengan bangganya ditunjukkan rekan kantor yang waktu itu ogah-ogahan menggunakan Blackberry. Waktu itu Whatsapp masih eksklusif hanya untuk pengguna iPhone. Blackberry masih menjadi raja. Setelah 2010 Whatsapp tersedia untuk Android, dan era Blackberry tumbang, Whatsapp semakin mengokohkan tahtanya sebagai aplikasi pesan instan terpopuler. Bahkan hingga menghempaskan fitur standar SMS di ponsel. Hingga kini, 1,5 miliar manusia menggunakan Whatsapp secara aktif untuk berkirim pesan.

Yang saya ingat, ketika Whatsapp baru memulai perkembangannya, Jan Koum menegaskan jika aplikasi ini akan ia buat sesederhana mungkin. Dia ingin Whatsapp tidak membuat penggunanya diribetkan oleh berbagai macam fitur tak berguna. Hanya sebagai pengantar pesan saja. Sampai-sampai ia menegaskan menolak iklan di layanannya, sehingga mengharuskan pengguna membayar USD 0.99 per tahun (belakangan sejak 2016 benar-benar dihapuskan). Sangbpencipta ingin Whatsapp menjadibaplikasi mandiri yang tidak menjejali penggunanya dengan iklan-iklan atau jualan sticker yang tidak penting. Whatsapp pun semakin dicintai dengan kesederhanaannya.

Godaan kucuran dana yang melimpah dari Facebook serta janji-janji manis independensi tim Whatsapp, rupanya menggoda Jan Koum cs. Bagaimana tidak, nilai USD 19 Miliar sudah cukup untuk Facebook menelurkan miliarder-miliarder baru di dunia digital. Jan Koum cs mendadak kaya raya, juga para karyawannya. Masing-masing diberikan jatah saham di Whatsapp. Jan Koum pun diangkat sebagai salah satu direktur di Facebook. Tahun 2014, Whatsapp resmi dicaplok Facebook.

Nah, sejak era inilah Whatsapp sepertinya ‘dipaksa’ untuk dilengkapi dengan fitu-fitur baru yang semakin bervariasi. Saya mencatat beberapa fitur tersebut:

  • Bisa untuk telepon
  • Ceklis biru sebagai tanda pesan sudah dibaca penerima
  • Bisa diakses via web browser komputer
  • Bisa kirim data (pdf dan doc)
  • Bisa video call
  • Yang terakhir, bisa berbagi “status” berupa teks, foto, maupun video yang akan hilang dalam 24 jam (mirip dengan fitur di Snapchat)

Dengan sederet fitur-fitur tambahan tersebut, bisa dibilang Whatsapp sudah tidak sesederhana dulu lagi. Meskipun tidak sedikit pula pengguna yang antusias menyambut fitur-fitur tersebut. Cita-cita Jan Koum sepertinya kandas dengan agresivitas Facebook membenamkan berbagai fitur yang -Jan Koum dulu bilang- tidak dibutihkan untuk aplikasi pesan instan.

Pada akhirnya, sang pencipta Whatsapp menyerah untuk mempertahankan idealismenya. Menurut saya, itu juga menunjukkan betapa dia mencintai Whatsapp yang telah dibangunnya dari nol. 30 April 2018, Jan Koum pun resmi melengserkan dirinya dari Whatsapp. Ia merasa tidak senang dengan cara Facebook mengembangkan Whatsapp. Sudah melenceng jauh dari yang ia cita-citakan.

Idealisme. Sepertinya itu yang dipertahankan oleh Jan Koum. Satu-satunya kebanggaan dalam dirinya yang tidak mau begitu saja direnggut darinya.

Leave a Comment