Grab (Meng)Uber Go-Jek

Kabar ‘pencaplokan’ Uber oleh Grab mengingatkan akan tulisan yang pernah saya buat sekira 2 tahun lalu di blog ini. Pada awalnya, Uber yang notabene sudah mendunia melalui layanan ‘taksi online’-nya mencoba peruntungan di Indonesia. Lantas kemudian tergiur untuk ikut dalam peta persaingan ‘ojek online’. Pun demikian dengan Go-Jek dan Uber seolah merasa ‘tidak rela’ kuenya di ojek online dibagi-bagi, ikutan serius terjun ke ranah taksi online.

Saya termasuk yang pernah memanfaatkan layanan Uber di masa-masa jayanya. Harga yang jauh lebih murah dibandingkan taksi konvensional serta kemudahan dalam pemesanan mau tidak mau membuat taksi konvensional serta angkutan umum (resmi) yang lain ketar-ketir. Apalagi, promo gila-gilaan di awal-awal peluncuran sangat memanjakan kantong pengguna.

Dua tahun setelah saya membuat postingan tersebut terasa singkat jika mencermati pertarungan sengit antara ketiga layana ride sharing tersebut. Go-Jek, Grab dan Uber melakukan segala macam upaya untuk memperkuat dan melebarkan eksistensinya di Indonesia. Apalagi dengan adanya kucuran dana segar dengan jumlah hingga triliunan rupiah. Yang paling kentara adalah promo harga besar-besaran yang sepertinya tidak masuk akal.

Bak di arena gladiator, dalam setiap pertarungan pasti ada yang tumbang. Di sini, tampaknya Uber-lah yang menjadi korbannya. Hanya sekira 3-4 tahunan sejak diluncurkan ertama kali pada 2014, Uber mampu bertahan. Paling tidak di Indonesia, Uber tidak dapat mengejar ketertinggalannya sama Go-Jek dan Grab. Tanggal 8 April 2018 merupakan batas akhir bagi para pengguna Uber untuk bisa menikmati servis dari platform ride sharing tersebut.

Tampilan aplikasi Uber hari ini (09/04). Tidak tampak driver yang aktif dimanapun.

Grab dengan cerdiknya memanfaatkan momen tumbangnya Uber tersebut dengan harapan mampu memberikan akselerasi penguasaan konsumen ojek ataupun taksi online di Indonesia. Head to head dengan Go-Jek. Sesuai judul tulisan ini, “Grab meng-uber Gojek” 😆.

Jujur saja, dengan persaingan ketat ini malah semakin menguntungkan konsumen. Tarung promo harga makin gila-gilaan. Saya termasuk yang tidak terlalu memfavoritkan pilihan ojek/taksi online. Mana yang mudah dipesan, dan mana yang lebih murah menjadi faktor utama memilih angkutan online.

2 thoughts on “Grab (Meng)Uber Go-Jek

  1. sebenarnya sama aja sih, kalo driver uber ke grab mereka jadi registrasi akun baru jadi gak bisa transfer.

Leave a Comment