Ayo Lawan Hoax!

“No pic means hoax”

Itu adalah kalimat canda-an yang sering disampaikan untuk menanggapi kawan yang mengirimkan pesan, misal, saat dia sedang ketemuan kawan lama yang sudah lama tidak jumpa.

“Kalo gak ada foto, sama aja bohong”, kurang lebih artinya begitu.

Setelah era media sosial makin meroket, istilah hoax semakin familiar. Mengutip dari wikipedia, hoax yang disebut juga pemberitaan palsu, diartikan sebagai “informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya”.

Ya, kuncinya itu di kalimat “dibuat seolah-olah benar adanya”. Si pembuat hoax harus memiliki keahlian itu. Keahlian mengolah kata dan data hingga seolah adalah fakta. Menyusun kata per-kata dengan jeli, sehingga membuat pembaca akan menelan mentah-mentah informasi hoax tersebut. Bahkan sampai menggebu-gebu membagikannya kepada orang lain, berharap orang lain menganggapnya “pahlawan” dengan membagi info hoax tersebut. Atau merasa paling benar, paling tahu, atau minimal paling cepat tahu akan kabar yang dia sebarkan.

Beberapa bahkan merasa telah berbuat benar dan merasa bisa membantu yang lain dengan berbagi sebuah kabar. Paling sering, jika kabar itu berisi informasi yang bermanfaat, contohnya tentang kesehatan, tips-tips terntentu, dan lainnya. Padahal jika info tersebut benar-benar adalah sebuah hoax, bukan tidak mungkin malah akan merugikan atau bahkan membahayakan orang lain.

Berita hoax, apapun topiknya, meski terlihat baik dan tidak terlihat letak kesalahannya akan tetap saja menjadi informasi bohong yang dapat merugikan.

Agar terhindar dari tipu daya hoax, saya punya beberapa tips untuk setidaknya bisa mengenali hoax. Cekidot!

1. Kenali topiknya

Seringkali, topik hoax yang disebarkan merupakan topik yang sedang hangat diperbincangkan. Misal, ketika topik sms penipuan sedang ramai, muncul hoax yang disebarkan via aplikasi WA yang berisi tentang pelaporan nomer penipuan ke operator.

2. Biasanya mencantumkan institusi-institusi atau tokoh penting

Misalnya hoax tentang “kerupuk yang menyala ketika dibakar mengandung plastik”, mencantumkan BPOM dan nama seorang dokter untuk meyakinkan isi berita bohong tersebut. Atau ada juga yang bagkan tidak tanggung-tanggung mencantumkan institusi dunia macam PBB, WHO dan lainnya.

3. Mencantumkan data statistik

Agar lebih terkesan serius, pembuat hoax seringkali mencantumkan angka-angka statistik misalnya persentase hasil survey, jumlah data korban dan semacamnya. Angka-angka tersebut dibuat cukup fantastis, kadang nilainya tidak masuk akal.

Lantas, tindakan bijak apa saja yang dilakukan untuk mengatasi hoax?

1. Jangan buru-buru membagikannya

Ingat, niat yang baik saja tidak cukup. Seringkali, karena merasa niatnya baik dengan bebagi informasi, dengan mudahnya membagikan berita hoax tanpa twrlwbih dahulu mengeceknya.

2. Lakukan pengecekan

Apa susahnya tinggal copy-paste judulnya di google? Lalu enter, pasti akan ditemukan info tersebut apakah joax atau bukan. Hoax yang beredar, sebagian besar sudah ada yang pernah memuatnya di dunia maya.

3. Segera klarifikasi

Jangan segan meluruskan berita hoax jika demikian faktanya. Kita kadang sungkan, khawatir dibenci dan sebagainya. Jika anda mengetahui jika kabar itu hoax, dan Anda tanpa sungkan segera mengklarifikasi kabar hoax tersebut, maka amda sudah memiliki peran untuk menghentikan kabar hoax tersebut. Minimal di lingkungan anda sendiri.

Meluruskan berita hoax, bisa jadi merupakan hal kecil yang dapat anda lakukan dan bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]:6)

Gerbong Argo Parahyangan, 25 April 2018

Leave a Comment