Review Film | A Plastic Ocean: Potret Keruh Kehidupan Laut

Ke sudut manapun kita memandang, dimanapun kita berada, saya sangat yakin pasti ada benda yang terbuat dari -atau mengandung- plastik. Plastik yang bukan melulu ‘kantong keresek’. Kehidupan kita sangat tergantung dengan plastik. Penemuan paling revolusioner selain besi menurut saya. Materi yang dapat dibentuk menjadi apapun, menjadi sesuatu yang membantu keseharian kita. Dari hal paling sederhana seperti menjadi kantong keresek hingga hal rumit seperti peralatan untuk para astronot.

A Plastic Ocean atau Samudera Plastik, adalah sebuah film dokumenter karya Craig Leeson, sutradara kelahiran Tasmania, Australia. Film yang rilis 22 September 2016 ini merupakan film dokumenter tentang pelestarian lingkungan. Judulnya saja cukup bernada satir, Samudera plastik. Seolah-olah menggambarkan bahwa ada bagian samudera di bumi kita ini yang isinya bukan air laut, melainkan plastik sepenuhnya.

Pengambilan gambar dilakukan hampir di berbagai belahan laut di bumi ini. Semua samudera, lintas negara, hingga pulau terpencil di tengah samudera Pasifik.

Tokoh utama dalam film ini bukanlah ikan-ikan ataupun mamalia laut. Bukan itu. Melainkan plastik. Plastik dengan berbagai bentuk akhirnya. Dari mulai botol air hingga komponen elektronik. Sampah-sampah dari daratan yang didominasi oleh plastik -yang notabene sulit terurai- mengalir melalui arus sungai-sungai di berbagai belahan dunia, berakhir di lautan luas. Mengapung bebas, kemudian tenggelam hingga ke dasar laut.

Plastik seolah candu, manusia begitu sulit terlepas dari ketergantungan akan plastik.

Adegan paling miris yang saya lihat yaitu ketika seekor penyu yang tanpa sadar memakan sehelai kantong keresek berwarna putih transparan. Dia menyangka itu adalah ubur-ubur yang biasa menjadi santapannya sehari-hari. Selontas kemudian, diperlihatkan di sebuah laboratorium seekor penyu dalam keadaan sudah mati, ketika dibedah perutnya penuh berisi plastik. Yang sudah pasti merusak metabolisme pencernaannya.

Atau ketika diperlihatkan bangkai-bangkai burung laut yang teronggok berserakan, tinggal tulang-belulangnya saja, terlihat jelas di bagian perutnya berbagai potongan plastik seukuran kerikil. Plastik-plastik itu tak sengaja termakan ketika mereka berburu ikan kecil di laut.

Dedikasi Leeson dan timnya pada film ini sangat patut diapresiasi. Mereka mengulas berbagai dampak negatif plastik bukan hanya bagi kehidupan laut maupun kerusakan lingkungan alam, bahkan juga dampaknya bagi kesehatan manusia. Tidak mengherankan jika film ini diganjar berbagai penghargaan di tahun 2017.

Film ini menurut saya cukup mampu memberikan pemahaman baru tentang dampak negatif plastik bagi bumi dan semua makhluk penghuninya. Pemahaman baru yang setidaknya membuat kita semakin sadar, hingga dapat berbuat sesuatu -meski sekecil apapun- untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik. Setidaknya, saya merasakan hal itu. Dan saya sangat yakin anda pun akan merasakan hal yang sama setelah menonton film ini.

Sumber gambar: google

One thought on “Review Film | A Plastic Ocean: Potret Keruh Kehidupan Laut

Leave a Comment