DCQ, TOP dan GMU pada Kontrak Pasokan Gas

Kontrak pasokan gas bumi di kalangan industri minyak dan gas bumi (migas) dikenal dengan sebutan GSA atau Gas Sales Agreement, atau ada pula beberapa perusahaan yang menuliskannya menjadi GSPA atau Gas Sales and Purchase Agreement, atau PJBG (Perjanjian Jual Beli Gas).

Pada tulisan ini (dan insya Allah tulisan-tulisan selanjutnya) saya ingin berbagi tentang beberapa istilah/ketentuan yang sering digunakan pada GSA beserta istilah-istilah yang memiliki pengertian dan penerapan yang sama. Meskipun dalam struktur kontrak masing-masing, istilah-istilah tersebut didefinisikan tersendiri sesuai dengan kesepakatan para pihak (Penjual dan Pembeli). Dalam beberapa kasus, redaksinya bisa jadi cukup berbeda antara satu dengan yang lain, namun dalam praktiknya memiliki kesamaan yang relatif mirip.

Di tulisan kali ini saya ingn mengulas tentang DCQ, TOP dan GMU. Semoga berkenan.

Daily Contract Quantity (DCQ)

Dalam penyebutan bahasa Indonesia, DCQ biasanya dituliskan sebagai JPH (Jumlah Penyerahan Harian), atau ada pula yang dituliskan sebagai JKH (Jumlah Kontrak Harian). Pada kebanyakan GSA, DCQ dituliskan dalam satuan energy-rate (BBTUD). Namun ada pula yang dituliskan dalam satuan flow-rate (MMSCFD).

Mengutip dari salah satu GSA, DCQ/JPH/JKH didefinisikan sebagai “Jumlah gas yang dinyatakan dalam BBTUD yang akan diserahkan penjual kepada pembeli setiap hari sebagaimana tercantum dalam Lampiran XX”. Kurang lebih bunyinya demikian.

Dalam pencantumannya pada dokumen GSA, DCQ kebanyakan disebutkan berupa tabel tersendiri dalam lampiran terpisah. Tabel tersebut terdiri atas periode-periode waktu tertentu yang memuat angka DCQ yang bisa berbeda pada setiap periodenya. Tapi dalam beberapa kasus (biasanya untuk jangka waktu pendek), nilai DCQ cukup dituangkan dalam isi perjanjian, bahkan cukup satu angka saja jika nilai DCQ tetap (flat) sampai akhir masa kontrak.

Memang, kebanyakan GSA mencantumkan angka DCQ dalam lampiran terpisah. Dugaan saya, hal ini dilakukan selain karena biasanya DCQ disebutkan dalam rentang jangka waktu kontrak dengan angka DCQ yang dapat berbeda setiap periodenya, juga dimaksudkan agar mempermudah proses administrasi apabila di kemudian hari terdapat perubahan DCQ dalam GSA.

Selain itu, beberapa istilah lain yang biasanya “menemani” DCQ antara lain: MDQ (Maximum Daily Contract Quantity) atau JPMH (Jumlah Penyerahan Maksimum Harian), yaitu jumlah maksimal gas yang dapat diserahkan penjual kepada pembeli (jika memungkinkan). Kebanyakan kontrak mencantumkan nilai MDQ sebesar 110% x DCQ.

Nilai MDQ biasanya mencerminkan kondisi operasi terkait dengan kemampuan produksi dan juga alasan safety. Dalam praktiknya, Penjual tidak berkewajiban menyalurkan gas di atas MDQ (meskipun diminta/dinominasikan Pembeli). Hal lainnya, Penjual dapat menerapkan harga ekses (surcharge) jika penyaluran di atas MDQ. Harga Gas Ekses berbeda-beda untuk setiap GSA. Mengenai Gas Ekses, Insya Allah saya sampaikan di tulisan berikutnya.

Take or Pay (TOP)

“Om, kontrak Anu tahun ini kena TOP nggak?”. Kira-kira dialog semacam itu yang menggambarkan bagaimana pengelolaan ketentuan TOP pada sebuah kontrak pasokan (GSA).

Take or Pay, secara harfiah bukankah bisa diartikan, “Ambil atau Bayar”? Jadi, barangnya bisa diambil/disalurkan (tentunya harus bayar), atau harus dibayar (meskipun tidak diambil). Duh.., kalau pakai terjemahan bebas begini, kok malah jadi bingung.. ^_^

Ok Sob, jadi gini. Dalam mengeksplorasi sebuah lapangan migas hingga masa produksi, produsen migas tentu memiliki analisis keekonomian terhadap bisnisnya. Dengan melewati berbagai proses evaluasi dan analisis, ditemukanlah satu titik kesimpulan bahwa pengembalian investasi dapat dipenuhi dengan syarat harus ditentukan jumlah minimum produknya dapat terjual. Nah, untuk mengamankan investasi yang sudah digelontorkannya itulah produsen migas menetapkan batas minimum yang harus dibayarkan oleh Pembeli. Yang pada penerapannya di GSA kemudian munculah istilah Take or Pay.

Ketentuan mengenai TOP pun berbeda-beda untuk setiap GSA. Namun relatif memiliki kesamaan dalam penerapannya. Secara periode, ketentuan mengenai TOP bisa berbeda-beda, antara lain: TOP Tahunan (kebanyakan kontrak menerapkan TOP Tahunan), TOP Triwulanan dan TOP Bulanan.

Variasi besaran TOP biasanya ditentukan dalam persentase. Ada yang 80%, 90% atau bahkan 100% dari Jumlah Kontrak Tahunan (DCQ dikali jumlah hari dalam setahun). Besaran jumlah volume atau energy TOP kemudian akan ditagihkan dengan harga gas pada tahun tersebut.

“Kena TOP”, -demikian biasanya disebut- memang lebih banyak terkesan negatif-nya. Karena memang demikian. Jika dilihat dari perspektif hilangnya kesempatan dalam me-utilisasi sejumlah gas yang “kita bayar, tapi tidak bisa kita jual”. Pun demikian dari segi pencapaian target perusahaan. “Kena TOP” juga bisa mencerminkan kegagalan dalam pencapaian target. Korelasinya memang berbanding lurus. Target penjualan tidak tercapai, demikian juga dengan target pasokan.

Gas Make Up (GMU)

Lantas, kemana perginya gas yang sudah “kita bayar, tapi tidak bisa kita jual” itu? Apakah “hangus”? Tenang.., gasnya nggak kemana-mana, kok.. ^_^ Gas itu masih dapat kita ambil, free of charge alias gratis. Eh, bukan gratis juga sih, kan sudah dibayar sebelumnya.

Nah, sejumlah gas yang sudah “kita bayar, tapi tidak bisa kita jual” itulah yang disebut Gas Make-Up (GMU). Jadi, GMU ini sebenarnya adalah sejumlah gas yang sudah dibayar pada periode sebelumnya (tapi tidak diserap/disalurkan), dan dapat diambil/diserap pada periode selanjutnya. Namun, pengambilan GMU tidak bisa sembarang tapi ada persyaratan yang mesti dipenuhi terlebih dahulu.

Kebanyakan GSA, menerapkan ketentuan syarat pengambilan GMU dapat dilakukan apabila penyaluran gas telah memenuhi jumlah tertentu dalam suatu periode tertentu. Contohnya, pada GSA B yang mengatur ketentuan TOP-nya tahunan, maka GMU dapat diambil setelah penyaluran di periode selanjutnya memenuhi level TOP.

Pengambilan GMU pun tidak bisa sebanyak-banyaknya. Biasaya diatur degan dibatasi sampai dengan MDQ. Penyaluran di atas MDQ tidak dianggap sebagai pengambilan GMU. Atau sesuai dengan kesepakatan antara Penjual dan Pembeli. Sekali lagi, ketentuan-ketentuan ini dapat berbeda pada setiap GSA.

Ilustrasi sederhana tentang DCQ, TOP dan GMU dapat dilhat sebagai berikut:

Ilustrasi DCQ, Take or Pay, Gas Make Up

Sekian dulu. Semoga bermanfaat. Jika ada hal yang perlu dikoreksi atau ditanyakan, silahkan isi di kolom komentar yak!

Sumber gambar: google

3 thoughts on “DCQ, TOP dan GMU pada Kontrak Pasokan Gas

Leave a Comment