Whatsapp yang Tidak Lagi Sederhana

Kabar mundurnya Jan Koum co-founder aplikasi pesan instan terpopuler saat ini, Whatsapp, cukup mengejutkan. Meski, banyak juga yang memprediksinya. Paling tidak, prediksi ini muncul sejak Whatsapp dibeli Facebook dengan nilai fantastis, USD 19 Miliar ata sekitar Rp 209 triliun (kurs USD 1 = Rp 11.000). Meski sempat dijanjikan bahwa Jan Koum cs tetap memegang kendali, namun tidak dipungkiri banyak keputusan mereka yang dipengaruhi oleh pemegang saham mayoritas, Facebook dibawah kendali Mark Zuckerberg.

Saya pertama kali mengenal Whatsapp pada medio 2009, ketika aplikasi ini dengan bangganya ditunjukkan rekan kantor yang waktu itu ogah-ogahan menggunakan Blackberry. Waktu itu Whatsapp masih eksklusif hanya untuk pengguna iPhone. Blackberry masih menjadi raja. Setelah 2010 Whatsapp tersedia untuk Android, dan era Blackberry tumbang, Whatsapp semakin mengokohkan tahtanya sebagai aplikasi pesan instan terpopuler. Bahkan hingga menghempaskan fitur standar SMS di ponsel. Hingga kini, 1,5 miliar manusia menggunakan Whatsapp secara aktif untuk berkirim pesan.

Continue reading “Whatsapp yang Tidak Lagi Sederhana”

Shell Eco-marathon, Memacu Kreasi dan Inovasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Logo bergambar kulit kerang warna kuning bertepi merah itu cukup mudah ditemui akhir-akhir ini di kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung. SPBU-SPBU Shell memang dikenal cukup banyak memiliki pelanggan loyal yang menginginkan BBM berkualitas bagi kendaraanya. Produk-produk minyak pelumas merk Shell juga menjadi produk wajib yang tersedia di bengkel-bengkel mobil maupun motor. Tapi, Shell bukan hanya melulu soal minyak pelumas dan SPBU. Di Indonesia, Shell telah lama bergerak di sektor hulu mapun hilir.

Sebagai perusahaan global, Shell menyadari bahwa kunci utama kesuksesan dan kelangsungan bisnis adalah dengan terus berinovasi. Memberikan keleluasaan untuk pengembangan dan penerapan ide-ide kreatif untuk keberlangsungan penyediaan energi yang ramah lingkungan. Shell juga menyadari bahwa banyak sekali pemikir-pemikir muda di berbagai belahan dunia yang memiliki potensi dan kreativitas dalam bidang energi ramah lingkungan.

Salah satu bukti keseriusan Shell akan hal tersebut adalah adanya event Shell Eco-marathon yang telah berlangsung sejak 1939. Event ini pertama kali diselenggarakan oleh sekelompok ilmuwan Shell di Amerika Serikat. Mereka saling bertaruh kepada siapa saja yang bisa menempuh jarak terjauh dengan volume bahan bakar yang sama (1 galon). Seiring waktu, kompetisi ini telah berkembang dan kini mencakup tiga regional: Amerika, Eropa, dan Asia.

Continue reading “Shell Eco-marathon, Memacu Kreasi dan Inovasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik”

Jangan Buat Sampah Sembarangan

Sudah lihat film A Plastic Ocean yang pernah saya ulas di sini? Ada satu bagian film yang memuat tentang penanganan sampah botol air minum di Jerman. Di sana, produsen produk/kemasan botol plastik tersebut menyediakan satu mesin yang bertungsi untuk “membeli kembali” botol plastik yang sudah tidak terpakai dari para konsumen. Setiap botol plastik bekas dihargai sekian Euro. Continue reading “Jangan Buat Sampah Sembarangan”

Grab (Meng)Uber Go-Jek

Kabar ‘pencaplokan’ Uber oleh Grab mengingatkan akan tulisan yang pernah saya buat sekira 2 tahun lalu di blog ini. Pada awalnya, Uber yang notabene sudah mendunia melalui layanan ‘taksi online’-nya mencoba peruntungan di Indonesia. Lantas kemudian tergiur untuk ikut dalam peta persaingan ‘ojek online’. Pun demikian dengan Go-Jek dan Uber seolah merasa ‘tidak rela’ kuenya di ojek online dibagi-bagi, ikutan serius terjun ke ranah taksi online.

Continue reading “Grab (Meng)Uber Go-Jek”